Berabad Lamanya Astronom Bingung, Kenapa Langit Malam Terlihat Gelap?

Kita pasti pernah bertanya-tanya, mengapa langit berwarna biru, mengapa air laut juga berwarna biru. Atau apa yang telah membuat matahari terbenam berwarna merah terang. Warna-warna itu sangat menonjol, alami, dan pasti memiliki penjelasan tersendiri. Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa langit malam berwarna hitam gelap?

Pertanyaannya hampir tidak masuk akal saat pertama kali kita mendengarnya. “Ini seperti menanyakan mengapa air basah,” kata Will Kinney, ahli kosmologi Universitas di Buffalo.

Berabad-abad lamanya misteri kegelapan langit malam ini telah membuat para astronom bingung. Mereka menyebut teka-teki itu sebagai Paradoks Olbers. Julukan teka-teki ini terinspirasi dari nama seorang astronom abad ke-19, yaitu Heinrick Olbers, yang memiliki ide awal dari pertanyaan ini.

Inti kasusnya seperti ini: Apabila alam semesta ini tidak terbatas dan dipenuhi dengan bintang, maka di mana pun kita melihat seharusnya langit malam tampak cerah, bukan gelap. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak demikian. Jawaban untuk teka-teki ini sebenarnya menginformasikan banyak hal tentang alam semesta kita, berikut juga dengan keterbatasannya.

Cobalah kita melihat dengan mata telanjang ke langit malam yang gelap. Kita akan dapat menyaksikan bintang-bintang jauh terlihat bercahaya lemah, sedangkan bintang-bintang yang sangat jauh akan tampak sinarnya redup. Akan tetapi, mari kita mengintainya melalui teleskop luar angkasa seperti Hubble, apa yang akan dapat kita lihat?

Ketika kita melihatnya melalui teleskop, di dalam langit yang terlihat sangat gelap itu ada sekumpulan galaksi yang sangat redup. Dan semakin lama kita telusuri, akan semakin banyak yang ditemukan. Kesimpulan sederhananya, jika alam semesta ini memiliki bintang-bintang yang tersebar merata di langit malam, seharusnya akan ditemukan titik-titik cahaya yang begitu banyak. Langit pun seharusnya tidak pernah terlihat gelap. Jadi mengapa langit malam kenyataannya terlihat gelap?

Seperti yang dilansir oleh Popsci.com, “Fakta bahwa bintang-bintang ada di mana-mana membuat fakta bahwa beberapa bintang berada jauh,” kata Katie Mack, astrofisikawan di North Carolina State University.

Tidak peduli ke manapun kita melihat, di alam semesta yang tak berujung ini, maka garis pandang kita akan selalu berakhir tepat di permukaan bintang. Pun seluruh langit akan selalu menyala dengan kecerahan matahari.

Untuk memahami hal ini, pikirkan tentang bagaimana sinar cahaya merambat dari bintang yang jauh hingga sampai ke mata kita. Karena sama halnya dengan mobil atau pun benda bergerak lainnya, cahaya juga memiliki kecepatan. Cahaya memerlukan waktu saat bergerak mencapai tujuannya. Jadi, ketika kita melihat sebuah bintang, planet, ataupun galaksi, sebenarnya yang kita lihat itu adalah kiriman pesan dari masa lalu, yang telah memberitahu kita apa yang terjadi pada objek terang itu saat ia mengirimkan cahayanya kepada kita. Jarak, ruang, dan waktu akan memengaruhi secepat apa pesan itu sampai.

Kita pasti pernah bertanya-tanya, mengapa langit berwarna biru, mengapa air laut juga berwarna biru. Atau apa yang telah membuat matahari terbenam berwarna merah terang. Warna-warna itu sangat menonjol, alami, dan pasti memiliki penjelasan tersendiri. Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa langit malam berwarna hitam gelap?

Pertanyaannya hampir tidak masuk akal saat pertama kali kita mendengarnya. “Ini seperti menanyakan mengapa air basah,” kata Will Kinney, ahli kosmologi Universitas di Buffalo.

Berabad-abad lamanya misteri kegelapan langit malam ini telah membuat para astronom bingung. Mereka menyebut teka-teki itu sebagai Paradoks Olbers. Julukan teka-teki ini terinspirasi dari nama seorang astronom abad ke-19, yaitu Heinrick Olbers, yang memiliki ide awal dari pertanyaan ini.

Inti kasusnya seperti ini: Apabila alam semesta ini tidak terbatas dan dipenuhi dengan bintang, maka di mana pun kita melihat seharusnya langit malam tampak cerah, bukan gelap. Akan tetapi, pada kenyataannya tidak demikian. Jawaban untuk teka-teki ini sebenarnya menginformasikan banyak hal tentang alam semesta kita, berikut juga dengan keterbatasannya.

Cobalah kita melihat dengan mata telanjang ke langit malam yang gelap. Kita akan dapat menyaksikan bintang-bintang jauh terlihat bercahaya lemah, sedangkan bintang-bintang yang sangat jauh akan tampak sinarnya redup. Akan tetapi, mari kita mengintainya melalui teleskop luar angkasa seperti Hubble, apa yang akan dapat kita lihat?

Ketika kita melihatnya melalui teleskop, di dalam langit yang terlihat sangat gelap itu ada sekumpulan galaksi yang sangat redup. Dan semakin lama kita telusuri, akan semakin banyak yang ditemukan. Kesimpulan sederhananya, jika alam semesta ini memiliki bintang-bintang yang tersebar merata di langit malam, seharusnya akan ditemukan titik-titik cahaya yang begitu banyak. Langit pun seharusnya tidak pernah terlihat gelap. Jadi mengapa langit malam kenyataannya terlihat gelap?

Seperti yang dilansir oleh Popsci.com, “Fakta bahwa bintang-bintang ada di mana-mana membuat fakta bahwa beberapa bintang berada jauh,” kata Katie Mack, astrofisikawan di North Carolina State University.

Tidak peduli ke manapun kita melihat, di alam semesta yang tak berujung ini, maka garis pandang kita akan selalu berakhir tepat di permukaan bintang. Pun seluruh langit akan selalu menyala dengan kecerahan matahari.

Untuk memahami hal ini, pikirkan tentang bagaimana sinar cahaya merambat dari bintang yang jauh hingga sampai ke mata kita. Karena sama halnya dengan mobil atau pun benda bergerak lainnya, cahaya juga memiliki kecepatan. Cahaya memerlukan waktu saat bergerak mencapai tujuannya. Jadi, ketika kita melihat sebuah bintang, planet, ataupun galaksi, sebenarnya yang kita lihat itu adalah kiriman pesan dari masa lalu, yang telah memberitahu kita apa yang terjadi pada objek terang itu saat ia mengirimkan cahayanya kepada kita. Jarak, ruang, dan waktu akan memengaruhi secepat apa pesan itu sampai.