Nani Wartabone Pejuang Putra Gorontalo

Nani Wartabone merupakan putra Zakaria Wartabone, seseorang aparat yang bekerja buat Pemerintah Hindia Belanda. Ibunya merupakan generasi ningrat. Walaupun bapaknya bekerja di Belanda, Dia mempunyai pemikiran yang berbeda pada penjajah. Dia tidak betah bersekolah sebab baginya guru-gurunya yang berkebangsaan Belanda sangat mengagung-agungkan bangsa Barat serta merendahkan Bangsa Indonesia. Dia apalagi sempat melepaskan tahanan ibu dan bapaknya sebab tidak hingga hati memandang rakyat dihukum.

Perjuangan serta Pergerakan

Nani Wartabone mulai aktif memperjuangkan Indonesia semenjak bersekolah di Surabaya. Dia setelah itu mendirikan organisasi Jong Gorontalo di Surabaya. Pada tahun 1928, Dia kembali ke Gorontalo serta membentuk perkumpulan tani( hulanga). Kepada para anggota hulanga ditanamkan rasa kebangsaan. Dia pula mendirikan cabang PNI serta Partindo. Sehabis kedua organisasi itu dibubarkan, Nani Wartabone aktif di Muhammadiyah.

Di Persyarikatam Muhammadiyah Nani Wartabone terbilang aktif serta sanggup menggerakan roda organisasi.

Dalam novel Biografi Nani Wartabone yang disusun FKIP Unsrat di Gorontalo (1985) disebutkan kalau semenjak tahun 1930, Nani Wartabone bersama Imam A Nadjamuddin berinisiatif mendirikan tim muhammadiyah Suwawa. Iktikad Nani Wartabone masuk Muhammadiyah merupakan buat memusatkan umat Islam supaya cocok dengan ajaran Islam yang sesungguhnya, sehingga pemikiran yang merugikan Islam bisa dihilangkan serta rakyat bisa berjuang bersama buat menggapai kemerdekaan. Dia memakai peluang dakwah lewat aktivitas tabligh muhammadiyah di kampung- kampung, tidak hanya buat mengantarkan ajaran islam, pula berupaya menanamkan pemahaman berpolitik rakyat buat bersatu mencapai Indonesia merdeka. Warga Gorontalo nyatanya sangat suka dengan ceramah- ceramah Nani Wartabone. Apabila warga ketahui kalau yang membagikan dakwah merupakan Nani Wartabone, hingga mereka hendak tiba berbondong- bondong buat mendatangi serta mencermati tabligh. Oleh karena itu kegiatan dakwah dia senantiasa dipantau pihak kepolisian Belanda. Apalagi sebagian kali pemerintah Belanda lewat kakaknya Ayuba Wartabone yang berprofesi Wedana Gorontalo, membagikan peringatan kepada Nani Wartabone terpaut aktivitas dakwahnya, tercantum ancaman hendak diasingkan jika senantiasa bergiat dalam persyarikatan.

Kejadian Hari Patriotik 23 Januari 1942

Nani Wartabone setelah itu mendengar Jepang sudah menduduki Manado. Orang- orang Belanda melarikan diri ke Poso. Perihal ini membuat orang Belanda di Gorontalo jadi ketakutan serta bersiap berangkat dengan terlebih dulu melaksanakan bumi hangus. Ia merasa waktu perlawanan terhadap Belanda sudah datang.

Pada bertepatan pada 22 Januari 1942, Belanda membakar kapal motor Kalio serta gudang kopra di pelabuhan. Mengenali perihal ini, dia mempersiapkan senjata serta para pemuda. Jumat pagi, 23 Januari 1942, pasukan yang dipandu langsung olehnya berangkat dari Suwawa mengarah Gorontalo. Selama ekspedisi, banyak rakyat turut bergabung. Jam 09. 00 pagi seluruh pejabat Belanda di Gorontalo sukses ditangkap. Sehabis itu, Dia mengetuai rakyat merendahkan bendera Belanda serta mengibarkan bendera Merah Putih yang diiringi lagu Indonesia Raya. Setelah itu Dia berpidato:

“ Pada hari ini, 23 Djanoeari 1942, kita bangsa Indonesia yang terletak disini soedah merdeka, leluasa, lepas dari pendjadjahan bangsa manapoen djoega. Bendera kita merupakan Merah Poetih, lagoe kebangsaan kita merupakan Indonesia Raja, pemerintahan Belanda sudah diambil alih oleh pemerintahan nasional”

Sore harinya, Nani Wartabone mengetuai rapat pembuatan Pucuk Pimpinan Pemerintahan Gorontalo( PPPG) yang berperan selaku Tubuh Perwakilan Rakyat( BPR) serta Nani diseleksi selaku ketuanya. 4 hari setelah itu, Nani Wartabone memobilisasi rakyat dalam suatu rapat raksasa di Tanah Luas Besar Gorontalo. Tujuannya merupakan mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamasikan itu dengan resiko apapun.

Kala Jepang berkuasa di Indonesia, Nani Wartabone ditangkap serta dipenjara di Manado sampai Juni 1944. Ia kembali dipenjara serta dipindahkan ke Morotai, kemudian ke penjara Cipinang, Jakarta, sebab menolak menyerahkan kekuasaan kepada Australia selaku wakil Sekutu. Ia dibebaskan pada bertepatan pada 23 Desember 1949.

Jepang menguasai Gorontalo

Sebulan setelah” Proklamasi Kemerdekaan Nasional” di Gorontalo, tentara Jepang mulai mendarat. Pada 26 Februari suatu kapal perang Jepang yang bertolak dari Manado berlabuh di pelabuhan Gorontalo. Nani Wartabone menyongsong baik bala tentara Jepang ini dengan harapan kedatangan mereka hendak membantu PPPG. Nyatanya kebalikannya, Jepang malah melarang pengibaran bendera Merah Putih serta menuntut masyarakat Gorontalo bersedia tunduk pada Jepang.

Nani Wartabone menolak permintaan ini. Tetapi sebab tidak kuasa melawan Jepang, dia setelah itu memutuskan meninggalkan kota Gorontalo serta kembali ke kampung kelahirannya Suwawa, tanpa terdapat penyerahan kedaulatan.

Di Suwawa Nani Wartabone mulai hidup simpel dengan bertani. Rakyat yang berpihak kepada Nani Wartabone kesimpulannya melaksanakan mogok massal sehingga Gorontalo bagaikan kota mati. Memandang suasana ini, Jepang lewat kaki tangannya melancarkan fitnah, kalau Nani Wartabone lagi menghasut rakyat berontak kepada Jepang.

Akibat fitnah itu, Nani Wartabone kesimpulannya ditangkap pada 30 Desember 1943 serta dibawa ke Manado. Di mari, Nani Wartabone hadapi bermacam siksaan. Salah satu siksaan Jepang yang masih menempel dalam ingatan warga Gorontalo sampai dikala ini merupakan, kala Nani Wartabone sepanjang satu hari tadi malam ditanam segala badannya kecuali bagian kepala di tepi laut di balik Kantor Gubernur Sulawesi Utara saat ini. Nyaris satu hari kepala Nani Wartabone dimainkan ombak serta butir- butir pasir. Nani Wartabone baru dilepaskan Jepang pada 6 Juni 1945, dikala isyarat kekalahan Jepang dari Sekutu mulai nampak.

Jepang kalah

Sehabis menyerah kepada Sekutu, Jepang masih senantiasa menghormati Nani Wartabone selaku pemimpin rakyat Gorontalo. Ini teruji dengan penyerahan pemerintahan Gorontalo dari Jepang kepada Nani Wartabone pada bertepatan pada 16 Agustus 1945. Semenjak hari itu Si Saka Merah Putih kembali berkibar di bumi Gorontalo sehabis diturunkan Jepang semenjak 6 Juni 1942. Anehnya, sehabis penyerahan kekuasaan itu, Nani Wartabone serta rakyat Gorontalo tidak mengenali sudah terjalin Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di Jakarta keesokan harinya. Mereka baru mengetahuinya pada 28 Agustus 1945.

Buat menguatkan pemerintahan nasional di Gorontalo yang baru saja diambil alih dari tangan Jepang itu, Nani Wartabone merekrut 500 pemuda buat dijadikan pasukan keamanan serta pertahanan. Mereka dibekali dengan senjata hasil rampasan dari Jepang serta Belanda. Pasukan ini dilatih sendiri oleh Nani Wartabone, sebaliknya posisi latihannya dipusatkan di Tabuliti, Suwawa. Daerah ini sangat strategis, terletak di atas suatu bukit yang dilingkari oleh sebagian bukit kecil, serta dapat memantau segala kota Gorontalo. Di tempat ini pula, raja- raja Gorontalo era dulu membangun benteng- benteng pertahanan mereka.

Sehabis menerima kabar proklamasi di Jakarta, pada bertepatan pada 1 September 1945 Nani Wartabone membentuk Dewan Nasional di Gorontalo selaku tubuh legislatif buat mendampingi kepala pemerintahan. Dewan yang beranggotakan 17 orang ini terdiri dari para ulama, tokoh warga serta pimpinan parpol. Gram. A. Maengkom yang sempat jadi Menteri Kehakiman Rl serta Muhammad Ali yang sempat jadi Kepala Bea Cukai di Tanjung Priok merupakan 2 dari 17 orang anggota dewan tersebut.

Ditangkap Belanda

Sayangnya, kondisi ini tidak berlangsung lama sebab Sekutu masuk. Untuk Belanda yang memboncengi Sekutu kala itu, Nani Wartabone merupakan ancaman sungguh- sungguh untuk hasrat mereka buat kembali menjajah Indonesia, spesialnya Gorontalo. Mereka berpura- pura mengundang Nani Wartabone berunding pada 30 November 1945 di suatu kapal perang Sekutu yang berlabuh di pelabuhan Gorontalo, kemudian Belanda menawannya. Nani Wartabone langsung dibawa ke Manado.

Di hadapan Majelis hukum Militer Belanda di Manado, Nani Wartabone dijatuhi hukuman penjara sepanjang 15 tahun dengan tuduhan makar pada bertepatan pada 23 Januari 1942. Dari penjara di Manado, Nani Wartabone dibawa ke Morotai yang setelah itu dipindahkah ke penjara Cipinang di Jakarta pada bulan Desember 1946. Cuma sebelas hari di Cipinang, Nani kembali dibawa ke penjara di Morotai. Di mari dia kembali hadapi siksaan raga yang sangat kejam dari tentara pendudukan Belanda. Dari Morotai, dia dikembalikan lagi ke Cipinang, hingga dibebaskan pada bertepatan pada 23 Januari 1949, sehabis pengakuan kedaulatan Indonesia.

Kembali ke Gorontalo

Bertepatan pada 2 Februari 1950, Nani Wartabone kembali menginjakkan kakinya di Gorontalo, negara yang diperjuangkan kemerdekaannya. Rakyat serta Dewan Nasional yang berjuang bersamanya menyongsong kehadirannya dengan perasaan gembira bercampur haru serta tangis. Kapal Bateku yang bawa Nani Wartabone disambut di tengah laut oleh rakyat Gorontalo. Nani Wartabone setelah itu ditandu dari pelabuhan dibawa keliling kota dengan semangat patriotisme.

Rakyat setelah itu membaiatnya buat jadi kepala pemerintahan kembali. Tetapi Nani Wartabone menentang wujud pemerintahan Republik Indonesia Serikat( RIS) yang terdapat pada dikala itu. Gorontalo sendiri terletak dalam Negeri Indonesia Timur. Baginya, RIS cumalah pemerintahan boneka yang di idamkan Belanda supaya Indonesia senantiasa terpecah serta gampang dipahami lagi.

Nani Wartabone kembali menggerakkan rakyat Gorontalo dalam suatu rapat raksasa pada bertepatan pada 6 April 1950. Tujuan rapat raksasa ini merupakan menolak RIS serta bergabung dengan NKRI. Kejadian ini menunjukkan, kalau Gorontalo merupakan daerah Indonesia awal yang melaporkan menolak RIS.

Pada periode ini sampai tahun 1953, Nani Wartabone dipercaya mengemban sebagian jabatan berarti, di antara lain kepala pemerintahan di Gorontalo, Penjabat Kepala Wilayah Sulawesi Utara, serta anggota DPRD Sulawesi Utara. Selepas itu, Nani Wartabone memilah tinggal di desanya, Suwawa. Di mari dia kembali turun ke sawah serta ladang serta memelihara ternak seperti petani biasa di wilayah terpencil.

Melawan PERMESTA

Ketenangan hidup Nani Wartabone selaku petani kembali terusik, kala PRRI/ PERMESTA mengambil alih kekuasaan di Gorontalo sehabis Letkol Ventje Sumual serta kawan- kawannya memproklamasikan pemerintahan PRRI/ PERMESTA di Manado pada bulan Maret 1957. Jiwa patriotisme Nani Wartabone kembali bergejolak. la kembali mengetuai massa rakyat serta pemuda buat merebut kembali kekuasaan PRRI/ PERMESTA di Gorontalo serta mengembalikannya ke pemerintahan pusat di Jakarta.

Sayangnya, pasukan Nani Wartabone masih kalah kokoh persenjataanya dengan pasukan pemberontak. Oleh sebab itu, dia bersama keluarga serta pasukannya terpaksa masuk keluar hutan semata- mata menjauh dari sergapan tentara pemberontak. Dikala bergerilya inilah, pasukan Nani Wartabone digelari” Pasukan Rimba”.

Bermacam metode dicoba Nani Wartabone supaya dapat menemukan dorongan senjata serta pasukan dari Pusat. Baru pada bulan Ramadhan 1958 tiba dorongan pasukan tentara dari Batalyon 512 Brawijaya yang dipandu oleh Kapten Acub Zaenal serta pasukan dari Detasemen 1 Batalyon 715 Hasanuddin yang dipandu oleh Kapten Piola Isa. Berkat dorongan kedua pasukan dari Jawa Timur serta Sulawesi Selatan inilah, Nani Wartabone sukses merebut kembali pemerintahan di Gorontalo dari tangan PRRI/ PERMESTA pada pertengahan Juni 1958.

Politisi

Sehabis PRRI/ PERMESTA dikalahkan di Gorontalo itu, Nani Wartabone kembali dipercaya memangku jabatan- jabatan berarti. Misalnya, selaku Residen Sulawesi Utara di Gorontalo, kemudian anggota DPRGR selaku utusan kalangan tani. Sehabis kejadian G30S tahun 1965, Nani Wartabone kembali berdiri di barisan depan rakyat Gorontalo guna menggerogoti habis akar- akar komunisme di daerah itu.

Kematian

Nani Wartabone yang sempat jadi anggota MPRS Rl, anggota Dewan Perancang Nasional serta anggota DPA itu, kesimpulannya menutup mata bertepatan dengan berkumandangnya azan salat Jumat pada bertepatan pada 3 Januari 1986, selaku seseorang petani di desa terpencil, Suwawa, Gorontalo.

Penghargaan

Pada peringatan Hari Pahlawan 2003, Presiden Megawati Soekarnoputri menyerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Nani Wartabone lewat pakar warisnya yang diwakili oleh salah seseorang anak laki- lakinya, Hi Fauzi Wartabone, di Istana Negeri, pada bertepatan pada 7 November 2003. Wartabone diresmikan selaku Pahlawan Nasional bersumber pada Keputusan Presiden RI No 085/ TK/ Tahun 2003 tertanggal 6 November 2003.

Untuk mengenang perjuangannya di Kota Gorontalo dibentuk Tugu Nani Wartabone untuk menegaskan warga Gorontalo hendak kejadian memiliki 23 Januari 1942 itu.