Misteri Hilangnya Lukisan Karya Kartini

“ Kami tiba ke rumah dia serta aku memperkenalkan diri selaku wartawan Suluh Indonesia,” kenang Sitisoemandari.“ Waktu itu aku masih wartawati dari suratkabar tersebut.”

Hari itu Rabu, 25 Maret 1964. Ia berkunjung ke kediaman Raden Ayu Adipati Arya Kardinah Reksanegara di Salatiga. Kendati, Sitisoemandari tidak berikan berita atas rencana kunjungannya, sang tuan rumah senantiasa bahagia menerima tamu asal Jakarta ini.

Perjumpaan memiliki itu diungkapkan dalam pengantar bukunya yang berjudul Kartini Suatu Biografi. Novel monumental itu diterbitkan oleh Gunung Agung di Jakarta pada 1977. Inilah novel biografi awal tentang Kartini, yang ditulis dengan kaidah jurnalistik oleh wanita Indonesia. Tebalnya, lebih dari 400 taman. Apalagi, novel ini menginspirasi Sjumandjaja buat film Kartini yang luncurkan pada 1982.

“ Dia berkenan menerima kami dengan wajah yang mencerminkan kesukaan hati,” tulis Sitisoemandari,“ serta segala perilakunya terhadap kami menunjukkan entusiasme.” Nyatanya, hari itu ia begitu bangga serta senang selaku perempuan—sekaligus wartawan—karena dapat berjumpa serta bercakap- cakap dengan Kardinah hingga puas.“ Yang sangat aku muliakan yakni kalau dia berkenan pula membagikan doa restu buat pekerjaan yang aku cita- citakan.”


Kartini, Kardinah serta Roekmini, bisa jadi di Semarang. Gambar oleh Charls Co.(Bodjong- Semarang), 1901. KITLV

Sejatinya, ekspedisi Sitisoemandari ke kota garnisun ini menjajaki ekspedisi dinas Soeroto, si suami. Dikala itu suaminya berprofesi selaku Kepala Inspeksi Sejarah serta Ilmu Bumi di Kementerian Pembelajaran serta Kebudayaan. Tidak hanya itu Soeroto pula menemukan mandat selaku Panitia Museum Sejarah Tugu Nasional.

Proyek pembangunan monumen ini digagas pada 1950- an. Konstruksinya bermula pada 1961, yang nanti sebab gempar 1965, baru rampung pada 1975.

Tujuan utama kehadiran Sitisoemandari merupakan buat mewawancarai Kardinah jelang hari kelahiran Kartini. Pada masa itu hari kelahiran Kartini belum dirayakan secara nasional. Hari Kartini formal diperingati secara nasional sehabis Bung Karno menghasilkan Keputusan Presiden Republik Indonesia sebagian pekan setelah itu, ialah pada 2 Mei 1964.

Kala hendak berpamitan, Kardinah memberinya hadiah. Sebagian lembar gambar Kartini, sketsa silsilah keluarga Tjondronegaran selaku leluhur Bupati Raden Mas Adipati Arya Sasraningrat, serta sketsa silsilah Sasraningrat.

Tetapi, terdapat bingkisan Kardinah buat rakyat Indonesia yang dititipkan kepada Soeroso sebagai anggota/ wakil Sekretaris I Panitia Museum Sejarah Tugu Nasional. Bingkisan itu berbentuk 3 lukisan—masing- masing karya Kartini, Roekmini, serta Kardinah. Ketiga karya seni memiliki itu dihadiahkan Kardinah buat Museum Sejarah Tugu Nasional.

Pembangunan pondasi serta bilik museum di ruang bawah rampung pada akhir 1962. Setelah itu diteruskan dengan pembangunan di dalam ruang bawah Monumen Nasional.

Sitisoemandari pula mengatakan dalam bukunya judul ketiga lukisan itu. Awal, lukisan cat minyak bertajuk“ Halaman Kembang Leli” karya Kartini. Kedua, lukisan pensil bertajuk“ Tepi laut Japara” karya Roekmini. Ketiga, lukisan arang“ 3 Ekor Kucing” karya Kardinah. Bagi penuturan yang dicatat Sitisoemandari,“ Lukisan itu terbuat kala mereka masih di Japara, saat sebelum Kardinah kawin pada 1902.

Lukisan arang bertajuk 3 Ekor Kucing karya Kardinah, dekat 1900. Lukisan ini diserahkan oleh Soeroto kepada Prijono, Menteri Pembelajaran serta Kebudayaan pada 9 Mei 1964. Mungkin difoto oleh Sitisoemandari.

Sesampainya di Jakarta, Soeroso mengantarkan ketiga lukisan itu kepada Kementerian Pembelajaran Kebudayaan di Jalur Cilacap Nomor. 1, Jakarta Pusat. Kantor berarsitektur Art Deco itu menempati bangunan sisa Departement van Onderwijs en Eredienst—kementerian pembelajaran serta urusan agama era kolonial. Saat ini, The Hermitage Hotel.

Ia menjumpai Prof Prijono( 1905- 1969) sebagai Menteri Pembelajaran serta Kebudayaan, sekalian Pimpinan Setiap hari Panitia Museum Sejarah Tugu Nasional. Dokumen penyerahan itu ditandatangani pada Sabtu, 9 Mei 1964. Sedangkan itu Sitisoemandari memotret satu per satu lukisan itu saat sebelum diserahkan secara formal kepada negeri. Maksudnya, sepanjang ini posisi terakhir lukisan itu terletak di Kementerian Pembelajaran serta Kebudayaan.

Hingga di mari tugas Sitisoemandari serta Soeroto buat mengantarkan ketiga lukisan itu boleh dikira berakhir. Amanat Kardinah kepada keduanya sudah lunas.

Raden Ajeng Siti Soemandari binti Sastrohoetomo lahir di Yogyakarta, 9 Oktober 1908. Ia menekuni jurnalistik semenjak umur 27 tahun. Tema budaya serta sastra sering jadi bahan tulisannya, alih- alih politik. Sedangkan itu Raden Soeroto bin Mertowinoto lahir di Jepara, 22 September 1912. Ia merupakan lulusan Hollands Inlandse Kweekschool” Goenoeng Sari” di Lembang. Semenjak dini 1930- an Soeroto memulai karier selaku guru, sambil bergabung selaku awak penerbitan pesan berita nasionalis Bangoen di Surakarta.

Kegemaran serta intensitas dalam bidang jurnalistik sudah mempertemukan mereka di pesan berita Bangoen. Seri postingan keduanya tentang ordonansi pernikahan serta emansipasi wanita sempat membuat gempar organisasi- organisasi Islam pada 1937. Kesimpulannya, Sitisoemandari serta Soeroto menikah di Cilacap pada 1938.

Pada 1966, terjalin kekisruhan dalam badan partai banteng itu, sehingga kepemimpinan bergeser ke kubu konservatif yang didukung Soeharto. Apakah itu pemicu Soeroto diberhentikan? Barangkali.

Dalam bagian akhir novel itu Sitisoemandari mengisahkan kalau sebagian tahun sehabis turbulensi politik, Soeroto berupaya mencari kembali ketiga lukisan amanat Kardinah. Ia berupaya mencari jejaknya, baik menanyakannya ke pegawai departemen, ataupun bertanya langsung kepada janda Prijono. Tetapi, tidak seseorang juga yang sempat melihat lukisan itu.

“ Hingga alangkah sayangnya, jikalau lukisan- lukisan itu serius tidak bisa diketemukan kembali,” pungkas Sitisoemandari dalam bukunya.“ Itu hendak ialah kerugian besar untuk sejarah nasional kita.”

Sitisoemandari meninggal pada 1994 dalam umur 85 tahun. Dekat 2 tahun setelah itu Soeroto menyusulnya, meninggal dalam umur 84 tahun.

Muhammad Afif Isyarobbi, pendiri komunitas Rumah Kartini, menyusuri jejak ketiga lukisan itu di Jakarta pada 2019. Komunitasnya bergerak mengumpulkan serta memelajari data- data sejarah yang berhubungan dengan seni, budaya, serta pusaka Japara. Salah satu upaya mereka merupakan mereproduksi karya Kartini, semacam mebel, kerajinan kayu, batik, serta lukisan.

“ Kami mereproduksi lukisan karya Mbah Kartini,” ucap Afif kepada National Geographic Indonesia.“ Semacam lukisan 4 angsa karya Mbah Kartini yang direpro dari arsip KITLV.” Dikala ini owner lukisan aslinya tidak dikenal sebab Kartini mengirimkannya melalui lembaga“ Oost en West” buat dijual di Toko Boeatan, Belanda.


Raden Ayu Adipati Arya Kardinah Reksanegara( 1 Maret 1881- 5 Juli 1971), bisa jadi di kediamannya di Salatiga.

Afif bertamu ke kediaman Myrtha di selatan Jakarta buat melacak data terpaut ketiga lukisan itu. Sehabis itu ia melanjutkan ke Galeri Nasional Republik Indonesia di Jakarta Pusat. Kendati penelusurannya belum menanggapi di mana ketiga lukisan itu terletak, di mari ia memperoleh data kalau“ Sehabis Gestapu beberapa barang karya seniman di[Kantor Kementerian Pembelajaran serta Kebudayaan] Jalur Cilacap banyak yang lenyap,” ucapnya.

“ Kerajaan Belanda mengoleksi lukisan Mbah Kartini,” kata Afif. Paling tidak 2 lukisannya dipajang di Indischezaal, Paleis Noordeinde.“ Kendati kita tidak menciptakan ciri tangannya.”

Bagi Afif, lukisan Kartini mempunyai“ metode mewarnainya yang khas Eropa serta dilukis bukan di kain kanvas, namun di papan kayu yang dibingkai ukiran kayu jati.” Sepanjang ini karya lukis Kartini yang dikoleksi Paleis Noordeinde memakai media papan kayu, bisa jadi lukisan yang lenyap itu pula memakai media yang sama.

Dalam sejarah seni rupa Indonesia, Raden Saleh ditahbiskan selaku pelopor seni rupa modern. Kemudian, siapa pelopor pelukis wanita kita? Afif menebak,“ Barangkali Mbah Kartini merupakan pelukis wanita yang awal di Indonesia.”

Kepala Galeri Nasional Republik Indonesia Pustanto berkata kalau dalam kajian internal lembaganya, dia sering mendiskusikan kedudukan Kartini di bidang seni rupa, tercantum dengan para kurator.” Kami terdapat kemauan buat melaksanakan studi tentang kedudukan Kartini,” ucapnya,” selaku salah satu tokoh seni rupa pribumi di masa Hindia Belanda semacam tokoh seni rupa yang lain.”