Sejumlah seniman tari dari Malang dan Jombang mementaskan Fragmen Topeng Panji yang menceritakan kisah cinta Panji Asmarabangun dengan Putri Candra Kirana di era kerajaan Kediri, di Bantaran Sungai Brantas, Kota Kediri, Jawa Timur Sabtu (39/11) malam. Pementasan gabungan seniman tari dua kota tersebut merupakan rangkaian Festival Panji Nusantara yang bertujuan untuk melestarikan kesenian asli Kediri. ANTARA FOTO/Rudi Mulya/ss/ama/14

Mengenal Tari Topeng Berasal dari Cirebon, Permainan Watak

Tari Topeng Berasal dari – Tari topeng Cirebon, Jawa Barat, adalah merupakan seni tari pertunjukan yang sarat dengan simbol penuh makna yang diharapkan dapat dipahami oleh  penontonnya.

Simbol-simbol tersebut di sampaikan melalui warna topeng, jumlah topeng, serta jumlah gamelan yang mengiringinya. Makna yang di sampaikan dapat berupa nilai kepemimpinan, cinta, ataupun kebijaksanaan yang di sampaikan melalui media tari.

Tari Topeng Berasal dari Cirebon

Siapakah empu yang telah menciptakan tarian topeng ini tidak diketahui. Kemunculannya juga ada beberapa versi. Salah satunya menyebut bahwa tari topeng telah dikenal sejak masa Majapahit. Jacob Sumardjo di dalam Arkeologi Budaya Indonesia menyebutkan bahwa Raja Hayam Wuruk pernah menari dengan mengenakan topeng yang terbuat dari emas. Setelah jatuhnya Majapahit. kemudian tarian ini tetap dipertahankan oleh sultan-sultan Demak dalam kemasan baru. Dari Demak, tarian ini menyebar ke daerah lainnya, termasuk wilayah Cirebon, yang pernah berada didalam bawah pengaruh Demak.

Di wlayah Cirebon, tari ini tetap menjadi kesenian keraton. Suatu waktu raja-raja Cirebon tidak memiliki cukup dana untuk dapat memelihara semua kesenian keraton. Akibatnya, para penari dan penabuh gamelan kemudian mencari sumber pendapatan lain yang berasal dari luar keraton. Tari topeng pun mulai menyebar dan berubah menjadi kesenian rakyat.

Melafalkan juga: Mengenal Tari Saman Berasal Dari Aceh

Tari topeng Cirebon kemudian mengalami transformasi. Muncullah dua jenis tari topeng Cirebon. Pertama, topeng Cirebon daerah barat, yakni Slangit, Gegesik, dan Palimanan di Kabupaten Cirebon; Pekandangan dan Tambi di Kabupaten Indramayu; serta Bongas di Kabupaten Majalengka. Kedua, topeng Cirebon wilayah timur, yakni Losari. Masing-masing daerah memiliki gaya atau ekspresi tarian yang cukup berbeda.

Sejumlah daerah-daerah tersebut kemudian melekat dengan tari topeng. Selain itu, ada juga penyebutan lain untuk menunjukkan ciri serta gaya menari dari dalang topeng (penari topeng). Sebagai contoh, “topeng Rasinah” untuk menyebut tarian yang di bawakan Mimi Rasinah, salah seorang maestro yang pernah di miliki bangsa Indonesia.

Setiap dalang topeng mempunyai ciri khas, estetika, serta kemampuan masing-masing di dalam menafsirkan tarian-tariannya. Menurut Lasmiyati dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung dalam “Rasinah: Maestro Tari Topeng Indramayu” di jurnal Patanjala Vol. 5 No. 3, September tahun 2013, Rasinah memiliki gaya yang spesifik, adalah gerak mengular ngalageday bersama diiringi dengan suara gamelan yang terdengar lembut dan tidak gemuruh. Hierarki gerak daner adalah topeng slangit, unggah tengah, dodoan, dan deder.

Topeng tumenggung menggambarkan orang dewasa yang tegas, gagah dan bertanggung jawab sehingga gerakannya bagai seorang patih atau tumenggung. Sementara topeng kelana atau rahwana memiliki karakter kasar, serakah, penuh amarah, dan tidak dapat mengendalikan hawa nafsu. Mobilitas tariannya agresif, energik, angkatan kakinya di buat tinggi dan rentangan tangannya lebar sebagai penggambaran gerakan yang kuat dan keras.

Lima topeng pokok di sebut sebagai “Topeng Panca Wanda”, artinya topeng lima watak, yang akan mempengaruhi gerakan yang dibawakan penari topeng. Topeng panji, wajahnya putih bersih seperti bayi baru lahir. Gerakan tari topeng panji pun cukup halus dan lembut. Topeng samba atau pamindo berkarakter anak-anak sehingga gerakan tariannya terlihat ceria, lucu, dan lincah. Topeng rumyang menggambarkan sifat keremajaan sehingga beberapa menampilkan gerakan ganjen (genit).

Walaupun gerak tarian di masing-masing daerah atau yang di bawakan penari topeng berbeda, namun bentuk topeng dan juga tokohnya tetap sama. Total jumlah topengnya ada sembilan, yang di bagi menjadi dua kelompok: lima topeng pokok (panji, samba atau pamindo, rumyang, tumenggung atau patih, kelana atau rahwana) dan empat topeng lainnya (pentul, nyo atau sembelep, jingananom, dan aki-aki) digunakan kalau lakon yang dimainkan berjudul Jaka Blowo, Panji Blowo, atau Panji Gandrung.

“Menyaksikan tari topeng Cirebon sesungguhnya kita menonton sekaligus mempelajari beberapa mitologi dari ajaran agama dan ethical,” tulis Dadang Kusnandar dalam Cirebon: Silang Peradaban.

Kelima topeng itu dapat dibedakan dari warnanya. Topeng panji berwarna putih, parmindo berwarna kuning muda, rumyang merah muda, tumenggung berwarna coklat, dan kelana berwarna merah.

Tari topeng Cirebon biasanya diawali bersama gerakan membungkuk sebagai bentuk penghormatan kepada penonton sekaligus tanda tarian akan segera dimulai. Setelah itu kaki penari digerakkan melangkah maju-mundur diiringi rentangan tangan dan lemparan senyum kepada penonton. Gerakan dilanjutkan bersama membelakangi penonton dan menggoyangkan pinggul sambil memakai topeng cocoa karakter yang akan dibawakannya.

Setelah menari berputar-putar, tubuh penari kembali membelakangi penonton sambil mengganti topeng bersama karakter yang berbeda. Saat mengenakan topeng, bunyi gamelan jadi perlambang dari karakter tokoh yang diperankan. Alunan musik paling keras adalah ketika penari hendak mengenakan topeng berwarna merah tua sebagai perlambang nafsu angkara murka.

Busana penari dengan mengenakan baju kutung lengan pendek, celana panjang di bawah lutut (sontog) penutup dada yang dikenakan di bahu (mongkron), “dasi”, selendang di pinggang (sampur atau soder), ikat pinggang (badong), tutup kepala (sobrah), serta gelang tangan dan kaki.

Penari gamelan diiringan waditra atau gamelan berlaras pelog, salendro atau prawa yang terdiri atas kendang (dua buah), kendang kecil (dua buah), saron kecil, bonang, kenong, dan jengglong, saron (dua set), tutukan dan kebluk, kelenang, kademung, kempul, dan gong keprak, suling, dan kemanak.

Tari topeng sempat berjaya pada era Orde Lama. Kedekatannya bersama kelompok kiri membuat tari topeng meredup pada awal Orde Baru. Menjamurnya musik dangdut dan tarling membuat mulai tenggelam kesenian tari topeng. Walaupun ada upaya untuk mengembangkan kembali tari topeng, termasuk timbulnya sangar-sangar, tari topeng tetap dalam kondisi sulit. Apalagi umumnya kemampuan menari yang mumpuni di wariskan secara turun-temurun.