Sosial dan Budaya

Fakta Unik dan Menarik, Serta Pencipta Tari Piring

Tari Piring menjadi salah satu tarian tradisional yang berasal dari Sumatera Barat, lebih tepatnya merupakan tarian khas asal Minang. Huriah Adam didapuk sebagai pencipta Tari Piring, yang mana pada kala itu beliau adalah seorang koreografer tari tradisional dan seniman asal Indonesia.

Lahir dalam keluarga yang memiliki minat tinggi pada seni menjadi salah satu alasan Huriah Adam menjadi seorang koreografer tari. Untuk mengasah kemampuannya, ia tidak hanya menempuh pendidikan di sekolah umum, namun juga pendidikan non formal, yakni sekolah seni.

Biografi Singkat Huriah Adam

Setelah kita mengetahui bahwa pencipta Tari Piring adalah Huriah Adam, tentu tahu saja tidak cukup. Seniman ini lahir di Padang Panjang pada tanggal 6 Oktober 1936. Huriah memiliki latar belakang keluarga Ulama, sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa ia adalah kalangan terhormat.

Namun meski begitu, Ayahnya sangat berambisi untuk terus mengambangkan budaya melalui seni, khususnya budaya Minangkabau. Tidak hanya dirinya, ketiga saudara Huriah Adam pun,  ikut terjun dalam dunia seni. Ia sendiri mencoba untuk menekuni seni tari, lukis, dan seni pahat.

Fakta Menarik Tari Piring

Tari Piring

Sejarah tari-tarian Indonesia jika dijabarkan mungkin bisa menjadi sebuah buku, tak terkecuali Tari Piring. Berikut ini fakta menarik Tari Piring asal Sumatera Barat yang hingga saat ini masih menjadi tari yang wajib disuguhkan dalam acara perayaan atau hari besar masyarakat Minang.

1. Tari Penyembahan Dewi Padi

Menurut yang tertulis dalam sejarah, setidaknya Tari Piring sudah ada sejak abad ke-12. Dulu tari ini digunakan sebagai tari untuk menyembah Dewi Padi. Hal ini karena masyarakat Minang sangat mempercayai adanya dewi, sehingga mereka mengucap syukur melalui tarian tersebut.

Baca juga :  Tari Piring Berasal Dari Suku Apa, Ya? Ini Jawabannya!

Sudah menjadi tradisi ketika hasil panen berlimpah ruah, maka ritual Tari Piring akan dilakukan. Tidak hanya menari, masyarakat pun juga akan menyiapkan sajian hasil panen dalam sebuah piring untuk dipersembahkan kepada dewa. Ritual ini terus berlangsung sebelum Islam dikenal.

2. Perkembangan Tari Piring

Setelah sekian lama menjadi sarana untuk menunjukkan rasa syukur pada dewa, arti Tari Piring berubah semenjak Islam masuk sebagai sebuah keyakinan. Mengingat dalam Islam mengutuk menyembah dewa, maka seiring berjalannya waktu, tari ini menjadi hiburan bagi warga Minang.

Selain itu, untuk terus menjaga kelestarian budaya khas Minang, tari ini selalu dipertunjukkan dalam acara besar, seperti pernikahan atau perayaan lainnya. Bahkan kini Tari Piring menjadi tari yang dipakai untuk menyambut tamu luar daerah sebagai sarana perkenalan budaya daerah.

3. Gerakan dan Properti Tari Piring

Salah satu keunikan yang dimiliki oleh tarian khas Sumatera Barat adalah adanya piring sebagai properti Tari Piring itu sendiri. Sudah menjadi ciri khas Tari Piring ketika seorang penari menari sambil membawa dua buah piring yang nantinya akan dibanting ke lantai dan pecah berserakan. 

Pemecahan piring bukan sebagai hiburan atau atraksi semata, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur dan gembira karena hasil panen mereka. Nantinya penari akan menari sambil menginjak pecahan piring, kamu tidak perlu khawatir penari akan terluka karena sudah ada trik di baliknya.

Demikian penjabaran mengenai siapa pencipta Tari Piring, hingga keunikan apa saja yang ada di dalamnya. Sungguh sangat beragam kebudayaan yang ada di Indonesia dan sudah sepatutnya kita bangga atas prestasi tersebut. Semoga warga Indonesia tetap rukun meski berbeda budaya.

Related Articles

Back to top button

Fatal error: Uncaught ErrorException: md5_file(/home/u0201324/public_html/pengetahuan.id/wp-content/litespeed/css/ecafbb3fe927b2706ff69f3ca2414124.css.tmp): failed to open stream: No such file or directory in /home/u0201324/public_html/pengetahuan.id/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimizer.cls.php:130 Stack trace: #0 [internal function]: litespeed_exception_handler(2, 'md5_file(/home/...', '/home/u0201324/...', 130, Array) #1 /home/u0201324/public_html/pengetahuan.id/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimizer.cls.php(130): md5_file('/home/u0201324/...') #2 /home/u0201324/public_html/pengetahuan.id/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(837): LiteSpeed\Optimizer->serve('https://www.pen...', 'css', true, Array) #3 /home/u0201324/public_html/pengetahuan.id/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(330): LiteSpeed\Optimize->_build_hash_url(Array) #4 /home/u0201324/public_html/pengetahuan.id/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimize.cls.php(264): LiteSpeed\Optimize->_optimize in /home/u0201324/public_html/pengetahuan.id/wp-content/plugins/litespeed-cache/src/optimizer.cls.php on line 130