Sosial dan Budaya

Tari Piring: Asal, Sejarah, Gerakan, Pola Lantai, Makna, dan Keunikannya

Tari Piring adalah tari tradisional Minangkabau dari Sumatera Barat yang terkenal karena para penarinya menari sambil membawa piring pada kedua telapak tangan. Tarian ini memiliki gerakan cepat, dinamis, dan membutuhkan keseimbangan serta koordinasi tubuh yang baik agar piring tetap berada di tangan selama pertunjukan.

Dalam bahasa Minangkabau, Tari Piring dikenal pula sebagai Tari Piriang. Data pemerintah mencatat Tari Piriang sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Sumatera Barat. Penetapannya dilakukan pada tahun 2016 melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 244/P/2016 dalam domain seni pertunjukan. Sumber pemerintah juga mengaitkan asal perkembangan Tari Piring dengan wilayah Solok, Sumatera Barat.

Keunikan Tari Piring tidak hanya terletak pada penggunaan piring. Gerakannya juga menggambarkan hubungan masyarakat Minangkabau dengan kehidupan agraris. Beberapa gerakan berkaitan dengan kegiatan bertani seperti menanam, menyabit, dan mengolah hasil pertanian. Unsur gerak yang dipengaruhi tradisi silek atau silat Minangkabau turut memberikan karakter energik pada tari ini.

Survey Premium

Saat ini Tari Piring tidak hanya dipentaskan di Sumatera Barat. Tarian tersebut dikenal luas sebagai salah satu representasi kebudayaan Minangkabau dan kerap muncul dalam pertunjukan seni, acara adat, festival budaya, penyambutan tamu, hingga kegiatan pendidikan.

Lantas, Tari Piring berasal dari mana? Bagaimana sejarahnya? Apa saja gerakannya? Bagaimana pola lantainya dan apa maknanya?

Berikut pembahasan lengkapnya.

Apa Itu Tari Piring?

Tari Piring adalah seni tari tradisional masyarakat Minangkabau yang menggunakan piring sebagai properti utama pertunjukan. Penari biasanya membawa sebuah piring pada masing-masing telapak tangan, lalu menggerakkan tubuh dan tangan mengikuti irama musik tanpa menjatuhkan piring tersebut.

Tari Piring disebut Tari Piriang dalam bahasa Minangkabau.

Piring yang digunakan bukan sekadar aksesori. Properti tersebut menjadi bagian utama dari komposisi gerak. Ketika tangan bergerak ke berbagai arah, piring mengikuti pergerakan penari sehingga menghasilkan visual yang menarik.

Dalam sejumlah bentuk pertunjukan, jari penari juga menggunakan cincin yang bersentuhan dengan permukaan piring. Sentuhan tersebut menghasilkan bunyi khas yang ikut membentuk karakter musikal Tari Piring.

Gerakan Tari Piring cenderung cepat dan dinamis. Penari melakukan berbagai perpindahan posisi sambil tetap mempertahankan piring pada telapak tangan. Karena itu, keseimbangan, kelenturan, konsentrasi, kekuatan tubuh, serta koordinasi tangan dan kaki sangat dibutuhkan.

Semakin meningkat tempo musik, biasanya intensitas gerakan pun semakin tinggi.

Hal inilah yang membuat pertunjukan Tari Piring terlihat atraktif dan mampu menarik perhatian penonton.

Tari Piring Berasal dari Mana?

Tari Piring berasal dari Sumatera Barat dan berkembang dalam kebudayaan masyarakat Minangkabau, terutama dikaitkan dengan wilayah Solok.

Data Warisan Budaya Takbenda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut bahwa Tari Piriang atau Tari Piring awalnya muncul di daerah Solok, Sumatera Barat. Tarian tersebut pada awal perkembangannya berhubungan dengan ungkapan rasa syukur masyarakat atas hasil panen.

Jadi, apabila muncul pertanyaan:

“Tari Piring berasal dari daerah mana?”

Jawaban singkatnya adalah:

Tari Piring berasal dari Sumatera Barat, khususnya berkembang dari lingkungan kebudayaan Minangkabau di wilayah Solok.

Solok sendiri merupakan salah satu wilayah yang memiliki hubungan kuat dengan budaya agraris. Kondisi tersebut relevan dengan sejumlah gerakan Tari Piring yang menggambarkan aktivitas pertanian.

Hubungan antara Tari Piring dengan masyarakat Minangkabau kemudian berkembang lebih luas. Tarian tersebut akhirnya dikenal tidak hanya sebagai kesenian daerah Solok, tetapi juga sebagai salah satu ikon kesenian Sumatera Barat.

Sejarah Tari Piring

Sejarah Tari Piring berkaitan erat dengan kehidupan agraris masyarakat Minangkabau. Dalam tradisi yang berkembang, tarian tersebut digunakan sebagai ekspresi rasa syukur atas hasil pertanian atau panen.

Sumber pemerintah mencatat hubungan Tari Piring dengan tradisi syukuran atas hasil panen. Namun, cerita yang menghubungkan bentuk awalnya dengan praktik ritual pada masa sebelum masuknya Islam perlu dipahami sebagai bagian dari riwayat budaya dan tradisi lisan, bukan selalu sebagai kronologi sejarah yang terdokumentasi secara lengkap.

Masyarakat Minangkabau pada masa lalu banyak bergantung pada sektor pertanian. Padi menjadi salah satu hasil bumi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, tidak mengherankan jika kehidupan pertanian turut tercermin dalam kesenian.

Gerakan menanam, menyabit, mengirik, dan berbagai kegiatan pengolahan hasil pertanian kemudian muncul sebagai bagian dari perbendaharaan gerak Tari Piring.

Seiring perubahan sosial dan keagamaan dalam masyarakat Minangkabau, fungsi Tari Piring juga mengalami perubahan. Tari yang pada masa tradisional berkaitan dengan ungkapan rasa syukur kemudian semakin berkembang sebagai seni pertunjukan.

Perubahan tersebut memperluas ruang Tari Piring.

Tarian yang awalnya hidup dalam masyarakat setempat kemudian dapat ditampilkan dalam pesta adat, pernikahan, pertunjukan budaya, penyambutan tamu, acara pemerintahan, festival, hingga kegiatan pariwisata.

Proses tersebut memperlihatkan bahwa seni tradisional tidak selalu bersifat statis. Kesenian dapat mengalami perubahan bentuk dan fungsi sesuai perkembangan masyarakat tanpa harus sepenuhnya kehilangan identitas budayanya.

Perkembangan Tari Piring Menjadi Seni Pertunjukan

Perjalanan Tari Piring dari kesenian tradisional menuju pertunjukan panggung juga melibatkan proses pengembangan koreografi.

Salah satu nama yang sering disebut dalam perkembangan bentuk pertunjukan Tari Piring modern adalah Huriah Adam, seniman dan koreografer Minangkabau. Pengembangan koreografi turut membantu Tari Piring tampil dalam bentuk pertunjukan yang dapat dinikmati oleh masyarakat yang lebih luas.

Seiring berjalannya waktu, berbagai sanggar dan seniman kemudian menciptakan variasi pertunjukan Tari Piring.

Akibatnya, tidak semua Tari Piring yang kita saksikan saat ini mempunyai susunan gerakan yang benar-benar identik.

Jumlah penari dapat berbeda.

Komposisi musik dapat berbeda.

Busana juga dapat mengalami penyesuaian.

Demikian pula dengan susunan pola lantai.

Namun, karakter utama seperti penggunaan piring, gerakan yang dinamis, musik Minangkabau, dan unsur-unsur gerak tradisional umumnya tetap dipertahankan.

Hal tersebut membuat Tari Piring dapat berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan ciri khasnya.

Ciri-Ciri Tari Piring

Ciri khas yang paling mudah dikenali tentu saja terdapat pada properti piring.

Dalam pertunjukan Tari Piring, penari biasanya membawa dua buah piring, masing-masing ditempatkan pada telapak tangan kanan dan kiri. Penari kemudian menggerakkan tangannya dengan cepat sambil menjaga agar piring tidak terjatuh.

Ciri berikutnya terdapat pada gerakannya.

Tari Piring mempunyai gerakan yang cepat, lincah, energik, dan dinamis. Pergerakan tubuh dapat semakin intens ketika tempo musik meningkat.

Tarian ini juga membutuhkan tingkat konsentrasi yang tinggi.

Penari tidak hanya perlu mengingat koreografi, tetapi juga harus memastikan piring tetap berada dalam kendali ketika tangan melakukan berbagai gerakan.

Gerakan kaki pun menjadi elemen penting.

Penari dapat bergerak maju, mundur, menyamping, berputar, dan berpindah formasi bersama penari lainnya.

Karakter berikutnya terdapat pada musik.

Pertunjukan Tari Piring menggunakan musik tradisional Minangkabau. Instrumen seperti talempong dan saluang sering menjadi bagian dari pengiringnya. Komposisi musik dapat berubah tergantung kelompok seni dan bentuk pementasan.

Perpaduan seluruh unsur tersebut menghasilkan pertunjukan yang terlihat hidup dan penuh energi.

Properti Tari Piring

Sesuai namanya, properti utama Tari Piring adalah piring.

Umumnya setiap penari membawa dua piring, satu pada masing-masing tangan.

Berbeda dengan aktivitas sehari-hari ketika piring dipegang pada bagian pinggirnya, dalam Tari Piring piring ditempatkan dan dikendalikan pada telapak tangan sehingga penari dapat melakukan berbagai gerakan.

Inilah yang membuat Tari Piring membutuhkan keterampilan khusus.

Piring harus tetap terkendali ketika tangan bergerak cepat, badan berubah posisi, dan kaki berpindah mengikuti koreografi.

Selain piring, dalam sejumlah penyajian terdapat pula cincin pada jari penari. Cincin tersebut dapat disentuhkan pada piring sehingga menghasilkan bunyi ritmis khas.

Bunyi yang muncul kemudian menyatu dengan irama musik.

Dengan demikian, piring memiliki setidaknya dua fungsi dalam pertunjukan. Piring menjadi elemen visual yang membedakan Tari Piring dari tari lainnya sekaligus dapat menghasilkan efek bunyi ketika berinteraksi dengan jari atau cincin penari.

Gerakan Tari Piring

Gerakan Tari Piring banyak terinspirasi oleh kehidupan masyarakat Minangkabau, terutama aktivitas pertanian, serta mempunyai keterkaitan dengan tradisi gerak silek Minangkabau.

Beberapa istilah gerak yang dikaitkan dengan aktivitas pertanian antara lain batanam atau menanam, manyabik atau menyabit, serta gerakan yang menggambarkan proses mengirik padi.

Gerakan tersebut menunjukkan hubungan yang erat antara kesenian dan kehidupan masyarakat.

Ketika masyarakat memiliki kehidupan yang banyak bergantung pada pertanian, aktivitas sehari-hari dapat berkembang menjadi inspirasi artistik.

Gerak menanam misalnya dapat diterjemahkan menjadi susunan tubuh dan tangan yang menggambarkan proses bercocok tanam.

Gerakan menyabit dapat mengadaptasi pola tubuh ketika seseorang memanen tanaman.

Begitu pula dengan aktivitas lain dalam proses produksi pertanian.

Namun Tari Piring bukan sekadar pantomim kegiatan bertani.

Koreografer mengolah gerakan tersebut menjadi komposisi estetis yang mempunyai ritme, arah, tenaga, dan pola tertentu.

Unsur silek atau silat tradisional Minangkabau juga ikut memengaruhi karakter sejumlah gerakannya. Karena itu, beberapa bagian dapat menampilkan posisi tubuh yang kuat, cepat, serta membutuhkan koordinasi dan ketangkasan.

Keseluruhan gerak kemudian dipadukan dengan kemampuan membawa piring.

Inilah salah satu tingkat kesulitan utama Tari Piring.

Penari harus menyelaraskan empat unsur sekaligus: tubuh, langkah kaki, musik, dan piring.

Pola Lantai Tari Piring

Pola lantai Tari Piring dapat berupa pola garis maupun pola melengkung, seperti horizontal, vertikal, lingkaran, hingga spiral. Penggunaannya dapat berbeda sesuai koreografi, jumlah penari, dan kebutuhan pertunjukan.

Pola lantai adalah jalur atau formasi yang digunakan penari ketika bergerak di ruang pertunjukan.

Dalam Tari Piring berkelompok, penggunaan pola lantai menjadi sangat penting karena membantu menjaga keteraturan posisi antarpemain.

Pola horizontal menempatkan para penari secara berjajar dari sisi kanan ke kiri atau sebaliknya.

Pola vertikal membuat susunan penari memanjang dari depan menuju belakang.

Pola lingkaran memungkinkan penari bergerak mengelilingi pusat tertentu.

Sementara pola spiral memberikan kesan gerakan yang semakin dinamis.

Koreografi modern dapat menggabungkan berbagai pola tersebut dalam satu pertunjukan.

Misalnya, penari memulai dalam susunan garis, kemudian berpindah ke formasi diagonal dan akhirnya membentuk lingkaran.

Pergantian tersebut menghasilkan variasi visual sehingga pertunjukan tidak terlihat monoton.

Karena itu, jika muncul pertanyaan “Apa pola lantai Tari Piring?”, sebaiknya tidak dijawab hanya dengan satu jenis pola.

Tari Piring dapat memakai beragam pola lantai yang disesuaikan dengan koreografi.

Jumlah Penari Tari Piring

Tari Piring umumnya ditampilkan secara berkelompok.

Dalam sejumlah bentuk pertunjukan, jumlah penarinya dapat berkisar antara tiga hingga tujuh orang dan sering menggunakan jumlah ganjil. Namun, hal tersebut bukan aturan universal karena jumlah penari dapat disesuaikan dengan koreografi dan kebutuhan pementasan.

Pertunjukan dengan jumlah penari lebih banyak memungkinkan pembentukan pola lantai yang lebih kompleks.

Sebaliknya, pertunjukan dengan sedikit penari dapat memberikan perhatian lebih besar pada keterampilan individu.

Baik penari laki-laki maupun perempuan dapat tampil dalam berbagai bentuk pertunjukan Tari Piring.

Komposisinya bergantung pada tradisi kelompok, konsep pertunjukan, serta koreografi yang digunakan.

Hal terpenting bukanlah jumlah pemain semata, melainkan kemampuan seluruh penari mempertahankan sinkronisasi.

Ketika tangan bergerak serentak sambil membawa piring dan langkah kaki berubah mengikuti musik, koordinasi kelompok menjadi elemen penting dalam menciptakan pertunjukan yang harmonis.

Musik Pengiring Tari Piring

Musik merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Tari Piring.

Musik pengiring Tari Piring menggunakan unsur musik tradisional Minangkabau, dengan instrumen seperti talempong dan saluang yang umum digunakan dalam berbagai penyajian.

Talempong adalah alat musik pukul tradisional Minangkabau yang bentuknya menyerupai gong berukuran kecil. Instrumen tersebut memiliki peranan penting dalam berbagai bentuk kesenian Sumatera Barat, termasuk Tari Piring.

Saluang merupakan alat musik tiup tradisional yang juga dikenal dalam kebudayaan Minangkabau.

Selain kedua instrumen tersebut, penyajian tertentu dapat melibatkan gandang atau gendang dan instrumen tradisional lainnya. Komposisi masing-masing kelompok pertunjukan tidak harus identik.

Salah satu karakter menarik musik Tari Piring adalah dinamika tempo.

Musik dapat dimulai dalam tempo yang relatif teratur, lalu berkembang menjadi semakin cepat.

Peningkatan tempo tersebut diikuti oleh gerakan para penari.

Ketika musik semakin cepat, tangan bergerak lebih aktif, langkah kaki semakin dinamis, dan perpindahan tubuh menjadi lebih intens.

Interaksi antara musik dengan penari inilah yang menciptakan ketegangan artistik dalam Tari Piring.

Penonton tidak hanya melihat bagaimana para penari bergerak, tetapi juga menunggu bagaimana mereka mampu mengendalikan piring ketika kecepatan gerak terus meningkat.

Kostum Tari Piring

Kostum Tari Piring menggunakan unsur pakaian tradisional Minangkabau, meskipun desainnya dapat berbeda berdasarkan kelompok seni, daerah, maupun kebutuhan pertunjukan.

Busana pertunjukan umumnya menggunakan warna-warna yang kuat.

Merah dan warna keemasan sering ditemukan dalam berbagai penyajian Tari Piring. Ornamen pada pakaian membuat gerakan penari terlihat semakin menarik ketika terkena pencahayaan panggung.

Untuk penari perempuan, bentuk busana dapat menggunakan pakaian yang mengadaptasi baju kurung, dilengkapi kain songket serta aksesori kepala khas Minangkabau.

Penari laki-laki dapat mengenakan busana tradisional dengan celana panjang, kain songket, serta penutup kepala Minangkabau. Bentuk kostum dapat mengalami penyesuaian sesuai kebutuhan pertunjukan.

Kostum bukan sekadar dekorasi.

Dalam sebuah tarian yang memiliki gerakan cepat seperti Tari Piring, pakaian harus dirancang agar tidak mengganggu mobilitas penari.

Kain, ornamen, dan aksesori perlu tetap aman ketika penari melakukan langkah cepat atau gerakan berputar.

Karena itu, unsur estetika dan fungsi harus berjalan bersama.

Makna Tari Piring

Makna Tari Piring berkaitan erat dengan rasa syukur, kehidupan agraris, kerja keras, kebersamaan, dan hubungan masyarakat Minangkabau dengan hasil pertanian.

Dalam sejarahnya, tarian tersebut berkaitan dengan rasa syukur masyarakat atas panen yang diperoleh.

Padi dan hasil bumi mempunyai peranan penting bagi kehidupan masyarakat agraris.

Karena itu, kegiatan pertanian tidak hanya dipandang sebagai pekerjaan sehari-hari, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sosial dan budaya.

Hal tersebut tercermin dalam gerakan Tari Piring.

Gerakan yang menggambarkan menanam, menyabit, hingga mengolah hasil pertanian memperlihatkan bagaimana manusia harus bekerja untuk memperoleh hasil dari alam.

Dari sisi yang lebih luas, Tari Piring juga dapat dimaknai sebagai bentuk penghargaan terhadap kerja keras masyarakat.

Panen tidak diperoleh begitu saja.

Ada proses panjang mulai dari mempersiapkan lahan, menanam, merawat tanaman, memanen hingga mengolah hasil.

Keseluruhan proses tersebut kemudian ditransformasikan menjadi gerak tari.

Dengan demikian, Tari Piring tidak hanya menawarkan keindahan visual.

Di dalamnya tersimpan gambaran mengenai kehidupan masyarakat yang menciptakan dan mewariskan kesenian tersebut.

Fungsi Tari Piring

Fungsi Tari Piring berubah mengikuti perkembangan masyarakat.

Pada masa tradisional, tari ini dikaitkan dengan ungkapan syukur atas panen. Kini fungsinya jauh lebih luas dan banyak digunakan sebagai seni pertunjukan, bagian dari acara adat, penyambutan tamu, acara pernikahan, festival kebudayaan, serta kegiatan sosial dan pendidikan.

Dalam konteks pertunjukan, Tari Piring berfungsi sebagai hiburan.

Gerak yang cepat serta keterampilan membawa piring membuat tari tersebut mempunyai daya tarik visual yang tinggi.

Tari Piring juga memiliki fungsi representasi budaya.

Ketika tampil dalam festival nasional atau internasional, kesenian ini menjadi salah satu sarana memperkenalkan kebudayaan Minangkabau kepada masyarakat yang berasal dari latar belakang berbeda.

Dalam dunia pendidikan, Tari Piring mempunyai peranan sebagai sarana pewarisan pengetahuan budaya.

Pelajar yang mempelajarinya tidak hanya belajar menari.

Mereka juga dapat mengenal musik tradisional, pakaian adat, sejarah masyarakat Minangkabau, nilai kerja sama, serta pentingnya menjaga warisan budaya.

Keunikan Tari Piring

Keunikan terbesar Tari Piring tentu terletak pada kemampuan penari mempertahankan piring pada kedua telapak tangan ketika melakukan gerakan cepat.

Tantangan tersebut membuat Tari Piring membutuhkan kemampuan koordinasi tubuh yang tinggi.

Penari harus mengetahui seberapa jauh tangan dapat dimiringkan.

Ia juga harus memahami pusat keseimbangan piring, mengendalikan kecepatan gerak, serta tetap mengikuti musik.

Konsentrasi harus dipertahankan sepanjang pertunjukan.

Keunikan lainnya terdapat pada perpaduan antara gerak, musik dan bunyi piring.

Ketika piring bersentuhan dengan cincin atau jari, tercipta bunyi ritmis yang menambah karakter pertunjukan.

Gerak yang terinspirasi aktivitas pertanian juga menjadi daya tarik tersendiri.

Penonton tidak hanya menyaksikan atraksi keterampilan membawa piring, tetapi sekaligus melihat transformasi aktivitas masyarakat menjadi karya seni.

Inilah yang membedakan Tari Piring dari pertunjukan yang sekadar mengandalkan atraksi.

Di balik keterampilan teknisnya terdapat latar belakang budaya.

Hubungan Tari Piring dengan Kehidupan Masyarakat Minangkabau

Tari Piring dapat dilihat sebagai salah satu contoh bagaimana seni lahir dari kehidupan masyarakat.

Dalam kehidupan agraris Minangkabau, pertanian memiliki fungsi ekonomi sekaligus sosial.

Masyarakat bekerja mengolah tanah, menanam padi, memanen serta mengolah hasilnya.

Pengalaman tersebut kemudian masuk ke dalam kesenian.

Gerak sehari-hari diolah menjadi gerakan artistik.

Alat yang berkaitan dengan kehidupan rumah tangga seperti piring kemudian menjadi properti utama.

Musik lokal menjadi pengiring.

Busana tradisional digunakan sebagai identitas visual.

Ketika semua unsur tersebut digabungkan, lahirlah sebuah seni pertunjukan yang mempunyai karakter khas.

Dengan demikian, memahami Tari Piring berarti tidak hanya mengetahui “penari membawa dua buah piring”.

Lebih jauh, kita dapat melihat bagaimana masyarakat mengubah pengalaman hidup, lingkungan dan tradisinya menjadi karya seni.

Tari Piring sebagai Warisan Budaya Indonesia

Pemerintah Indonesia menetapkan Tari Piriang atau Tari Piring sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada tahun 2016.

Tari Piring tercatat dalam domain Seni Pertunjukan dari Provinsi Sumatera Barat melalui Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 244/P/2016.

Penetapan tersebut penting karena sebuah warisan budaya tidak hanya berupa bangunan atau benda bersejarah.

Pengetahuan, keterampilan, musik, tari, tradisi, upacara hingga berbagai praktik kebudayaan juga merupakan bagian dari kekayaan suatu masyarakat.

Tari Piring termasuk di dalamnya.

Namun, status sebagai warisan budaya tidak otomatis menjamin sebuah seni akan terus hidup.

Pelestarian tetap membutuhkan keterlibatan manusia.

Penari harus terus belajar.

Guru dan seniman perlu mewariskan pengetahuan.

Kelompok kesenian membutuhkan ruang untuk berlatih dan tampil.

Masyarakat juga perlu memberikan apresiasi.

Balai Pelestarian Nilai Budaya Sumatera Barat, misalnya, pernah melaksanakan kegiatan revitalisasi kesenian tradisional di Kota Solok yang melibatkan sanggar-sanggar lokal dan menampilkan sejumlah kesenian, termasuk Tari Piring. Kegiatan tersebut diarahkan untuk memperkenalkan serta mempertahankan kebudayaan tradisional kepada generasi muda.

Perkembangan Tari Piring pada Masa Kini

Pada masa kini, Tari Piring telah bergerak jauh melampaui lingkungan tempat awal perkembangannya.

Tari tersebut ditampilkan pada panggung kebudayaan, festival, pernikahan, penyambutan tamu hingga berbagai kegiatan pariwisata.

Perubahan ruang pertunjukan tersebut ikut memengaruhi bentuk pementasan.

Pertunjukan di panggung besar mungkin membutuhkan penyesuaian formasi agar terlihat jelas oleh penonton.

Pertunjukan untuk keperluan pendidikan dapat menggunakan koreografi yang lebih mudah dipelajari.

Sementara festival seni dapat menghadirkan pengolahan koreografi yang lebih kompleks.

Perubahan tersebut merupakan fenomena yang normal dalam perkembangan seni.

Tradisi yang masih hidup justru sering mengalami interpretasi baru.

Hal yang penting adalah mengetahui unsur mana yang menjadi karakter budaya serta bagaimana perubahan dilakukan tanpa sepenuhnya memutus hubungan dengan tradisi asalnya.

Nilai-Nilai yang Terkandung dalam Tari Piring

tari piring

Tari Piring juga dapat digunakan sebagai media untuk memahami sejumlah nilai budaya.

Nilai pertama adalah rasa syukur.

Hubungan historisnya dengan hasil panen memperlihatkan penghargaan masyarakat terhadap hasil kerja dan sumber kehidupan.

Nilai berikutnya adalah kerja keras.

Gerakan yang terinspirasi aktivitas bertani menggambarkan proses yang harus dilakukan sebelum masyarakat dapat menikmati hasil pertanian.

Ada pula nilai kedisiplinan dan konsentrasi.

Secara teknis, Tari Piring tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penari harus terus berlatih untuk dapat mengendalikan piring sambil bergerak sesuai irama.

Dalam pertunjukan kelompok terdapat nilai kerja sama.

Masing-masing penari harus mengetahui posisi, arah gerakan dan waktunya sehingga tidak mengganggu penari lain.

Kesalahan satu orang dapat memengaruhi formasi keseluruhan.

Karena itulah Tari Piring dapat menjadi media pembelajaran budaya sekaligus pembentukan keterampilan.

Mengapa Tari Piring Perlu Dilestarikan?

Pelestarian Tari Piring penting karena sebuah tarian menyimpan lebih dari sekadar rangkaian gerakan.

Di dalamnya terdapat pengetahuan tentang sejarah, musik, busana, pola kehidupan masyarakat, keterampilan tubuh hingga hubungan manusia dengan lingkungannya.

Jika pengetahuan tersebut tidak lagi diwariskan, masyarakat berisiko kehilangan sebagian identitas budayanya.

Pelestarian dapat dilakukan melalui sanggar seni, sekolah, pertunjukan, penelitian, festival hingga dokumentasi digital.

Teknologi juga membuka peluang baru.

Video pertunjukan dapat digunakan sebagai dokumentasi.

Materi pembelajaran dapat dipublikasikan secara daring.

Penari dan seniman dapat memperkenalkan proses latihan melalui media sosial.

Namun dokumentasi saja tidak cukup.

Tari adalah living heritage atau warisan yang hidup.

Artinya, kesenian tersebut perlu terus dipraktikkan.

Selama masih terdapat orang yang belajar, mengajar, menampilkan dan mengembangkan Tari Piring, warisan budaya tersebut tetap mempunyai kehidupan dalam masyarakat.

Perbedaan Tari Piring dan Tari Lilin

Tari Piring terkadang dianggap mirip dengan Tari Lilin karena keduanya sama-sama menggunakan piring.

Namun keduanya merupakan bentuk pertunjukan yang berbeda.

Tari Piring menggunakan piring secara langsung pada tangan sebagai properti utama dengan karakter gerakan yang energik dan dinamis.

Sementara Tari Lilin dikenal menggunakan piring yang di atasnya ditempatkan lilin menyala. Karakter geraknya cenderung menonjolkan keseimbangan dan keanggunan dalam menjaga nyala lilin selama pertunjukan.

Jadi, meskipun sama-sama berkaitan dengan kebudayaan Minangkabau dan menggunakan piring, konsep serta karakter pertunjukan keduanya berbeda.

Fakta Menarik tentang Tari Piring

Salah satu fakta menarik Tari Piring adalah adanya hubungan yang kuat antara benda sederhana dalam kehidupan sehari-hari dengan karya seni yang sangat kompleks.

Piring yang biasanya digunakan untuk menyajikan makanan berubah menjadi pusat perhatian sebuah pertunjukan.

Hal menarik lainnya terdapat pada gerakannya.

Sebagian gerak Tari Piring terhubung dengan aktivitas bertani, sementara karakter tubuhnya juga dipengaruhi tradisi silek Minangkabau. Perpaduan tersebut menghasilkan gerakan yang sekaligus mempunyai unsur keseharian, estetika, dan ketangkasan.

Tari Piring juga memperlihatkan bagaimana kesenian dapat berubah fungsi.

Dari ekspresi yang berkaitan dengan rasa syukur atas panen, kesenian tersebut berkembang menjadi seni pertunjukan dan salah satu representasi identitas budaya Minangkabau.

Kini keberadaannya bahkan telah memperoleh pengakuan secara nasional sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Kesimpulan

Tari Piring adalah tari tradisional Minangkabau yang berasal dari Sumatera Barat dan secara historis dikaitkan dengan wilayah Solok. Dalam bahasa Minangkabau, tarian ini disebut Tari Piriang.

Ciri khas Tari Piring adalah penggunaan dua buah piring yang ditempatkan pada telapak tangan penari. Piring tersebut tetap dikendalikan ketika penari melakukan rangkaian gerakan yang cepat, dinamis dan membutuhkan konsentrasi tinggi.

Sejarah Tari Piring berkaitan dengan kehidupan agraris masyarakat Minangkabau. Tarian ini secara tradisional dikaitkan dengan ungkapan rasa syukur terhadap hasil panen, dan sejumlah gerakannya menggambarkan aktivitas pertanian seperti menanam, menyabit dan mengolah hasil panen.

Dalam perkembangannya, fungsi Tari Piring berubah menjadi semakin luas.

Tarian tersebut kini dapat ditemukan dalam acara adat, pesta pernikahan, penyambutan tamu, festival kebudayaan, pertunjukan seni, pendidikan hingga kegiatan pariwisata.

Tari Piring juga telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2016 dalam kategori Seni Pertunjukan.

Melestarikan Tari Piring berarti tidak hanya mempertahankan sebuah tontonan menarik. Di dalam tarian tersebut tersimpan sejarah, keterampilan, musik, pakaian, nilai kerja keras, kebersamaan dan pengetahuan budaya masyarakat Minangkabau.

Karena itulah Tari Piring tetap menjadi salah satu kekayaan seni tradisional Indonesia yang penting untuk dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Tari Piring

Tari Piring berasal dari mana?

Tari Piring berasal dari Sumatera Barat dan berkembang dalam kebudayaan masyarakat Minangkabau, terutama dikaitkan dengan daerah Solok. Data Warisan Budaya Takbenda Indonesia menyebut Solok sebagai daerah awal kemunculannya.

Apa nama lain Tari Piring?

Dalam bahasa Minangkabau, Tari Piring disebut Tari Piriang. Nama tersebut juga digunakan dalam pencatatan resmi Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Apa properti utama Tari Piring?

Properti utama Tari Piring adalah dua buah piring, dengan masing-masing piring ditempatkan pada telapak tangan penari. Dalam sejumlah penyajian, cincin pada jari dapat disentuhkan pada piring untuk menghasilkan bunyi khas.

Apa pola lantai Tari Piring?

Pola lantai Tari Piring dapat menggunakan garis horizontal, vertikal, lingkaran, spiral, dan berbagai kombinasi formasi lainnya. Polanya dapat berbeda berdasarkan koreografi dan jumlah penari.

Apa saja gerakan Tari Piring?

Gerakan Tari Piring terdiri atas berbagai ragam. Sebagian menggambarkan aktivitas pertanian seperti menanam, menyabit dan mengirik padi, sedangkan sebagian karakter geraknya mempunyai hubungan dengan tradisi silek Minangkabau.

Apa musik pengiring Tari Piring?

Tari Piring menggunakan musik tradisional Minangkabau. Instrumen yang umum digunakan antara lain talempong dan saluang, serta dapat dilengkapi gandang atau instrumen tradisional lain sesuai bentuk pertunjukan.

Apa makna Tari Piring?

Makna Tari Piring berhubungan dengan rasa syukur terhadap hasil panen, kerja keras, kehidupan agraris dan kebersamaan masyarakat Minangkabau. Makna tersebut tercermin pula melalui sejumlah gerakan yang terinspirasi dari aktivitas pertanian.

Apa fungsi Tari Piring?

Pada masa kini Tari Piring berfungsi sebagai seni pertunjukan, hiburan, penyambutan tamu, bagian dari acara adat dan pernikahan, sarana pendidikan serta media pelestarian kebudayaan Minangkabau.

Apa keunikan Tari Piring?

Keunikannya terletak pada kemampuan penari melakukan gerakan cepat dan dinamis sambil mempertahankan piring pada kedua telapak tangan. Piring sekaligus dapat menghasilkan efek bunyi ketika berinteraksi dengan cincin atau jari penari.

Apakah Tari Piring termasuk Warisan Budaya Takbenda Indonesia?

Ya. Tari Piriang atau Tari Piring ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari Sumatera Barat pada tahun 2016 melalui SK Nomor 244/P/2016 dalam domain Seni Pertunjukan.

Related Articles

Back to top button